Berita
Langkah Demi langkah, Jejak "Indonesia Sentris" Menapaki Kepulauan Pongok
Dalam mewujudkan pembangunan Indonesia Sentris, Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan ikut mendorong dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional...
Langkah Demi langkah, Jejak "Indonesia Sentris" Menapaki Kepulauan Pongok
Lulus Wijaya
Dinas Kominfo
1 tahun yang lalu
Dalam mewujudkan pembangunan Indonesia Sentris, Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan ikut mendorong dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional. Salah satu upaya tersebut terlihat di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Perlahan tapi pasti, bukti nyata Indonesia Sentris sedikit demi sedikit mulai terasa di Kecamatan Kepulauan Pongok yang berfokus pada penguatan interkonektivitas infrastruktur, transportasi dan digitalisasi, pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, daerah ini juga berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan, pemerataan melalui subsidi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), serta mendorong pertumbuhan berkualitas melalui peningkatan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta keberagaman budaya yang luar biasa. Keberadaan hutan hujan tropis, lautan yang luas, dan tanah yang subur menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi ekonomi yang besar, khususnya di sektor pertanian, maritim, dan pariwisata. Selain itu, keberagaman etnis, bahasa, dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat di berbagai pulau menambah kekayaan budaya yang menjadi identitas dan kekuatan bangsa Indonesia. Setiap daerah memiliki kearifan lokal dan keunikan yang berbeda, yang jika dikelola dengan baik, dapat menjadi modal penting dalam pembangunan nasional.
Namun, di balik kekayaan tersebut, Indonesia juga menghadapi tantangan yang kompleks dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan merata di seluruh wilayahnya. Ketimpangan pembangunan antar daerah, akses yang terbatas ke infrastruktur dasar, pendidikan, dan layanan kesehatan masih menjadi isu utama yang perlu diatasi. Beberapa daerah terpencil dan terluar mengalami kesulitan dalam mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai dari pemerintah pusat.
Oleh karena itu, pendekatan melalui Indonesia Sentris sangat penting untuk memastikan bahwa setiap daerah dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya, serta menikmati hasil pembangunan secara adil dan merata.
Pendekatan melalui konsep Indonesia-sentris melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang berperan penting dalam proses pembangunan. Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, bertanggung jawab dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan yang adil dan merata untuk seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat lokal, sebagai pihak yang paling memahami kondisi dan kebutuhan daerahnya, memiliki peran krusial dalam memberikan masukan, berpartisipasi aktif dalam program pembangunan, serta menjaga dan melestarikan kekayaan budaya dan lingkungan setempat.
Kolaborasi antar semua pemangku kepentingan ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa setiap daerah dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan memanfaatkan potensi yang ada secara optimal. Dengan pendekatan yang holistik dan partisipatif, pembangunan yang merata dan berkelanjutan di seluruh Indonesia dapat tercapai.
Konsep Indonesia-sentris diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, mencakup berbagai wilayah dengan karakteristik geografis dan budaya yang unik. Setiap daerah, baik itu di perkotaan yang maju maupun di pedesaan yang terpencil, mendapat perhatian dalam upaya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Pulau-pulau di Indonesia, dengan berbagai potensi dan tantangan yang berbeda, menjadi fokus penting dalam pendekatan ini. Misalnya, daerah pegunungan yang memerlukan akses infrastruktur yang lebih baik atau wilayah pesisir yang perlu pengelolaan sumber daya laut yang bijaksana. Pembangunan yang berpusat pada keunikan daerah ini bertujuan untuk mengatasi ketimpangan regional dan memastikan bahwa semua masyarakat dapat merasakan manfaat dari kemajuan ekonomi dan sosial secara merata.
Kecamatan Kepulauan Pongok di Kabupaten Bangka Selatan adalah contoh nyata dari penerapan konsep Indonesia-sentris. Dengan kondisi geografis yang merupakan daerah kepulauan, masyarakat di Kecamatan Kepulauan Pongok menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan akses terhadap layanan dasar. Pembangunan pendidikan, infrastruktur, ketahanan pangan dan transportasi, serta potensi besar dalam sektor perikanan dan pariwisata, dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Pendekatan yang berfokus pada keunikan dan kebutuhan spesifik Kecamatan Kepulauan Pongok, memungkinkan pengembangan strategi pembangunan yang sesuai, termasuk peningkatan aksesibilitas, pelatihan keterampilan bagi masyarakat, serta konservasi dan promosi keindahan alam dan budaya lokal. Dengan demikian, konsep Indonesia-sentris tidak hanya memajukan daerah-daerah tersebut tetapi juga memperkuat identitas nasional yang inklusif dan beragam.
Pentingnya pendekatan melalui konsep Indonesia-sentris tetap relevan sepanjang waktu, terutama dalam konteks pembangunan jangka panjang di Indonesia. Mengingat kompleksitas dan keberagaman kondisi di berbagai wilayah, implementasi kebijakan dan program yang berfokus pada keunikan setiap daerah harus dilakukan secara konsisten. Pendekatan ini harus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, serta responsif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat dan dinamika ekonomi. Dengan perhatian yang berkelanjutan terhadap setiap daerah, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi lokal dan mengatasi berbagai tantangan yang ada secara lebih efektif.
Sebelum konsep Indonesia sentris diterapkan, pembangunan di Indonesia umumnya terpusat pada wilayah-wilayah utama seperti Jawa dan sekitarnya. Pendekatan ini sering kali mengabaikan daerah-daerah luar Jawa dan Bali, yang mengalami ketertinggalan dalam hal infrastruktur, interkonektivitas, pendidikan, layanan kesehatan dan lainnya. Sentralisasi dalam pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya menyebabkan ketidakmerataan, dengan banyak daerah yang tidak mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai untuk berkembang.
Dengan diterapkannya konsep Indonesia sentris, upaya dilakukan untuk mengatasi ketimpangan ini dengan memprioritaskan pembangunan yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Konsep ini menekankan pada pemanfaatan potensi lokal dan peningkatan infrastruktur di daerah-daerah yang kurang berkembang, serta memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kebutuhan spesifik masing-masing daerah. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan dalam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di seluruh nusantara.
Untuk memastikan bahwa pembangunan di daerah Kecamatan Kepulauan Pongok sebagai tetap berlanjut, pendekatan pembangunan Indonesia sentris menjadi solusi yang efektif. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan yang lebih berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, pendekatan Indonesia-sentris dapat diimplementasikan melalui perencanaan dan pelaksanaan kebijakan yang adil dan merata. Partisipasi masyarakat, serta monitoring dan evaluasi yang kontinu juga menjadi bagian penting dalam memastikan keberhasilannya.
Dengan latar belakang ini, menjadi rujukan untuk mengeksplorasi berbagai isu penting yang relevan dengan pendekatan Indonesia-sentris, sebagai upaya bersama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera.
Sejak awal kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berkomitmen untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Strategi pembangunan dari pinggir atau paradigma Indonesia sentris. Kebijakan ini mengembangkan suatu pembangunan yang tadinya hanya bertumpu di Pulau Jawa, saat ini difokuskan pada pemerataannya di luar Jawa.
"Sekali lagi saya sampaikan pembangunan tidak Jawa sentris, tetapi pembangunan juga dilakukan di luar Pulau Jawa." kata Presiden Jokowi, di Hall Jakarta Internasional Expo, Kemayoran (10/1/2015).
Konsep Indonesia Sentris ini tentu saja sangat relevan bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang dikenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil. Pemerataan pembangunan yang diikhtiarkan oleh Indonesia Sentris tersebut, telah menyentuh Bumi Serumpun Sebalai hingga ke salah satu Pulaunya yaitu Kepulauan Pongok di ujung selatan Pulau Bangka.
Pendekatan melalui konsep Indonesia Sentris mengedepankan pembangunan yang holistik dan inklusif melalui beberapa pilar pembangunan, seperti:
1. Interkonektivitas melalui pembangunan infrastruktur, transportasi, dan digitalisasi yang meningkatkan aksesibilitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di seluruh pelosok negeri.
2. Keberlanjutan dengan memperkuat ketahanan pangan melalui inovasi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
3. Pemerataan pembangunan dicapai melalui bantuan subsidi yang tepat sasaran, memastikan kesejahteraan merata bagi seluruh lapisan masyarakat. 4. Mewujudkan pertumbuhan berkualitas dengan fokus pada pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan, sehingga menciptakan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi di era global.
Kecamatan Kepulauan Pongok adalah sebuah kecamatan baru dimekarkan dari Kecamatan Lepar Pongok yang diresmikan pada tanggal 12 Juli 2012 oleh Bupati Bangka Selatan, dengan Luas wilayah 89,67 km2. Kecamatan Kepulauan Pongok merupakan kecamatan yang terdiri dari dua pulau, dan secara administratif terbagi menjadi dua desa yaitu Pongok dan Celagen.
Secara geografis Kecamatan Kepulauan Pongok berbatasan dengan Selat Gaspar di sebelah utara dan timur, Laut Jawa di sebelah selatan. Lokasi yang berbatasan dengan laut tersebut, menjadikan semua desa di Kecamatan Kepulauan Pongok merupakan desa pesisir. Sektor Perikanan merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian dan menjadi kontributor terbesar terhadap PDRBnya. Itulah karenanya sebagian besar penduduk di Kecamatan Kepulauan Pongok berprofesi sebagai nelayan.
Kemajuan Itu Semakin Terasa

Interkonektivitas diperlukan untuk membuka aksesibilitas suatu daerah menjadi lebih mudah dijangkau, sehingga dapat mengurangi disparitas harga-harga barang/logistik, meningkatkan produktivitas daerah dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Infrastruktur dan transportasi menjadi simpul konektivitas yang mampu mengikat dan merajut keberagaman identitas, hingga ke seluruh wilayah bahkan di daerah terdepan, pelosok, dan terpencil demi untuk memperkokoh keberagaman. Untuk itu pembangunan infrastruktur transportasi di seluruh wilayah sangat diperlukan sebagai bentuk menjalankan amanah Indonesia Sentris.*
Bukti-bukti nyata Indonesia Sentris telah menyentuh wilayah Kepulauan Pongok sudah terasa, saat kita menuju ke daerah itu. Menempuh perjalanan selama 4 jam dari Pelabuhan Penyeberangan Sadai, Bangka Selatan, Kapal KM Banawa Nusantara yang merupakan bantuan kapal Pelayaran Rakyat (Pelra) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, siap membawa kita. KM Banawa Nusantara merupakan salahsatu dari sekian kapal yang menghubungkan antarwilayah kepulauan, yakni Kecamatan Kepulauan Pongok dan Kecamatan Lepar. Kapal ini juga sebagai upaya pemerintah untuk mobilitas penduduk, distribusi barang, dan mendukung akses potensi wisata di pulau itu.
Sesampainya di Pongok, masyarakat menyambut dengan penuh keramahan dan keceriaan di ujung dermaga. Dermaga untuk kebutuhan sandar kapal itu, digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas. Dengan konstruksi beton permanen yang dibangun pada tahun 2021, dermaga mampu menampung 10 kapal dengan kapasitas 30-50 gt, menjadi bukti lain pelaksanaan Indonesia Sentris yang sudah sampai di pulau itu. Harapan masyarakat, Dermaga akan berkembang menjadi pelabuhan yang akan memudahkan mereka dalam mobilitas baik penumpang maupun barang.
"Dermaga menjadi penting bagi aktivitas warga, khususnya yang berprofesi sebagai nelayan. Dulu sebelum ada dermaga yang sekarang, mereka harus antri menunggu bongkar muat" Jelas Sekretaris Kecamatan Kepulauan Pongok, Syahrial Fitri.
Wujudkan Mimpi Anak-anak Kepulauan Pongok

Indonesia menunjukkan komitmen terhadap pendekatan Indonesia Sentris melalui pembangunan sumber daya manusia dengan fokus Pertumbuhan berkualitas pada pendidikan. Program seperti bantuan pendidikan, pemenuhan sarana prasarana, pelatihan dan sertifikasi guru serta pengembangan kurikulum relevan memperkuat mutu pendidikan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga memastikan akses pendidikan yang merata, menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas utama untuk mewujudkan visi Indonesia Sentris.*
Sekolah menjadi salah satu pilar penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat. Saat ini di Kecamatan Pongok memiliki tiga Sekolah Dasar, satu Sekolah Menengah Pertama, dan satu Sekolah Menengah Atas.
Sekolah-sekolah di Kepulauan Pongok telah menggunakan sistem pembelajaran kurikulum Merdeka Belajar. Bahkan di sekolah menengah, sebagian kini telah terintegrasi menggunakan teknologi digital sebagai pembelajarannya. Untuk meningkatkan kompetensi, para Guru pengajar juga telah dibekali kemampuan dengan berbagai pelatihan-pelatihan.
Peningkatan akses pendidikan ini, tentu saja sangat penting bagi masyarakat Kepulauan Pongok. Jumlah anak sekolah dari tahun ke tahun semakin meningkat, dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, di Kepulauan Pongok ini hanya ada satu sekolah (tingkat dasar). Itulah sebabnya dalam data di tahun lampau, banyak anak di Kepulauan Pongok putus sekolah, yang disebabkan karena jauhnya sekolah lanjutan.
"Sekarang enak, bisa sekolah di sini. Kalo dulu, mau melanjutkan ke sekolah lanjutan, ya harus keluar pulau, ke Toboali (Ibukota Kabupaten Bangka Selatan)" ujar Na'imah, Ibu dari enam anak di Desa Celagen.
Pemerataan Pembangunan yang telah dilakukan ini, akan semakin meningkatkan semangat anak-anak untuk terus belajar dan bersekolah tetap tinggi. Mereka memiliki cita-cita dan harapan yang besar untuk masa depan yang lebih baik.
Akses Informasi Kepulauan Pongok Semakin Global

Sangat penting bagi setiap daerah dapat terjamah oleh akses internet untuk menunjang kehidupan seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat di era moderen ini.
Sebagai negara dengan bentangan jarak yang terpisah oleh lautan, penguatan jaringan internet secara merata hingga ke pelosok negeri memungkinkan terciptanya konektivitas antar daerah, dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara.
Pemerataan pembangunan infrastruktur ini pun sejalan dengan konsep Indonesia Sentris yang menitikberatkan adanya pembangunan yang seimbang dan berkeadilan.
Masyarakat Kepulauan Pongok berangsur akrab dengan kemajuan teknologi. Berdasarkan data dari Kemenkominfo, di tahun 2021, beberapa desa di Kecamatan Kepulauan Pongok masih merupakan daerah blank spot.
Untuk menunjang ketersediaan internet, pemerintah mengeluarkan program Aksi WiFi Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), dengan Desa Pongok menjadi satu di antara desa yang dipetakan menerima program tersebut.
Dengan adanya akses Internet ini, membuka peluang baru bagi masyarakat setempat, dalam mengakses informasi dan layanan digital, guna meningkatkan kualitas hidup mereka yang mendorong peningkatan bidang pendidikan dan pertumbuhan ekonomi lokal.
"Sekarang di sini sudah ada BTS (Base Transceiver Station) dan masyarakat bisa menikmati akses internet. Tapi, kadang-kadang sinyal di sini putus, karena listrik yang menjadi pembangkit tiang-tiang pemancar tidak stabil, akibat kurang pasokan BBM untuk pembangkitnya. Apalagi waktu cuaca buruk." Jelas Sekcam Kepulauan Pongok.
Cerdas Berliterasi Melalui Babel Semakin Cakap Digital

Indonesia Sentris yang merupakan mandat dari pemerintah pusat harus diimplementasikan oleh seluruh lembaga baik pusat maupun daerah sesuai dengan bidangnya, begitu juga Dinas Komunikasi Dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Diskominfo Babel). Melalui tugas dan fungsi utamanya, Diskominfo Babel memberikan informasi kepada masyarakat dengan meluncurkan kampanye "Babel Semakin Cakap Digital", untuk mendukung pencapaian Indonesia Sentris.
Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital, memfasilitasi akses informasi, dan mendorong masyarakat untuk lebih cakap dalam memanfaatkan teknologi digital. Kampanye "Babel Semakin Cakap Digital" tidak hanya terpusat di ibu kota, tetapi juga menjangkau hingga pulau-pulau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, termasuk di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.
Kampanye Babel Semakin Cakap Digital di Kepulauan Pongok, Diskominfo Babel fokus kepada siswa-siswa Sekolah Dasar sebagai sasaran targetnya. Tanggung jawab untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita anak-anak Kepulauan Pongok terletak pada pengenalan literasi digital yang memampukan mereka membuka pintu-pintu kesempatan baru. Dengan literasi digital, kita memberi mereka alat untuk menembus batas-batas yang ada, menjadikan impian mereka lebih terjangkau dan masa depan mereka lebih cerah.
"Kami mengimplementasikan strategi mikrotargeting, khususnya untuk anak-anak di pulau-pulau tersebut, dengan fokus pada siswa SD. Mengapa siswa SD? Karena literasi digital adalah kunci untuk bersaing di berbagai bidang saat ini, dan di masa depan. Dengan meningkatkan keterampilan digital sejak dini, kami berharap anak-anak bisa melihat peluang global dan berani bermimpi besar," jelas Plt. Kepala Bidang IKP Diskominfo Babel, Leo Randika, S.I.Kom., M.I.Kom.
Dengan langsung mendatangi pulau-pulau pada kampanye Babel Semakin Cakap Digital itu, Diskominfo Babel memastikan setiap anak memiliki akses yang sama terhadap pengetahuan dan keterampilan digital, untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.
Ketahanan Pangan Kuat, Masyarakat Hebat

Di tengah-tengah statusnya sebagai daerah kepulauan, Kecamatan Kepulauan Pongok menyadari arti pentingnya ketahanan pangan dengan memaksimalkan lahan menjadi potensi pertanian.
Petani yang berjumlah tak lebih dari 1 persen penduduk menunjang program jangka menengah (RPJMN 2020-2024), dengan berhasil mengolah bentangan lahan seluas 25 hektare menjadi sawah.
Hasilnya, mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan harian secara mandiri, untuk setidaknya setengah dari total penduduk di Desa Pongok, juga saat nelayan menghadapi musim paceklik, dan faktor cuaca yang dapat menghambat pengiriman bahan pokok dari luar pulau.
Kecamatan Kepulauan Pongok, menjadi salah satu kecamatan di Indonesia dengan lanskap biru-hijau. Terletak di tengah-tengah 'kepungan' birunya lautan, daerah ini memiliki sumber daya yang meliputi ruang lingkup kehidupan laut hayati (flora dan fauna), maupun non hayati.
Tak heran, dengan latar belakang tersebut mayoritas penduduknya (95 persen) memilih nelayan sebagai profesi, dan sebagian besar roda perekonomian akan dimulai dari sektor ini. Namun, daratan kecamatan yang seluas 89,67 kilometer persegi, menyisakan potensi lain.
Kecil memang, tak lebih dari 1 persennya saja, atau 25 hektare daratannya menganga sebuah penghijauan di pinggiran wilayah. Lahan yang bersumber dari bantuan optimasi lahan (oplah) itu dikelola menjadi sebuah bentangan sawah, berhias pematang sebagai penanda kepemilikan antar petani yang tergabung dalam dua kelompok tani, dan hanya berjumlah 30-an orang saja.
Namun, dari tangan-tangan mereka, dari sebuah keyakinan, serta kerja keras, sawah ini berimbas pada kecukupan, dan kesejahteraan warga. Mereka berani keluar pakem, keluar dari zona laut yang sudah menjadi sumber ekonomi. Kelompok ini berpikir untuk memenuhi kebutuhan kehidupan bermasyarakat di sana.
"Kami sebagai petani sangat antusias, karena kami mengingat kami ini pulau. Pulau kami jauh dari (pusat) Bangka Selatan, dan ada di zona 6. Kalau tidak ada lahan sawah, apa jadinya? Kami ini terpencil, jauh dari Pulau Bangka, jauh dari Pulau Belitung, karena kami di tengah-tengah. Kalau angin kuat, kapal tidak bisa masuk, nggak makan kita. Jadi, sawah yang ada saat ini untuk membantu kebutuhan masyarakat yang ada sekarang," ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kepalauan Pongok, Zumri.
Keseriusan, dan konsistensi petani dari Kepulauan Pongok ini sejalan dengan amanat RPJMN 2020-2024, yang menjadikan ketahanan pangan sebagai satu program prioritas nasional. Bahkan, persoalan pangan ini sudah dilakukan sejak 2006 lalu oleh para petani, minimal untuk memenuhi kebutuhan warga di kecamatan tersebut, dan mencegah krisis pangan sebagai tujuan utama lahirnya rencana pembangunan nasional.
"Pada tahun 2017 ada cetak sawah baru tapi belum terlaksana, dan diolah oleh masyarakat. Sejauh ini dengan hasil 1,5 ton setiap panen bisa mencukupi setengah kebutuhan pangan di Desa Pongok. Kalau lahan 137 hektar tadi berjalan, bisa mencukupi untuk semua kecamatan," ujar Zumri.
Budaya Maritim Tetap Jaya

Subsidi BBM melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah langkah penting untuk mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan SPBN di lokasi strategis, biaya bahan bakar menjadi lebih terjangkau, meningkatkan frekuensi melaut dan stabilitas harga ikan.
Kebijakan ini mendukung pendekatan Indonesia Sentris, memastikan pembangunan merata, termasuk di Pulau Pongok, di mana mayoritas penduduknya adalah nelayan. Hasilnya, kesejahteraan masyarakat nelayan meningkat dan kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional lebih optimal.
Kepulauan Pongok, yang terletak di pesisir, adalah salah satu contohnya bagaimana masyarakat pesisir dapat bertahan dan berkembang melalui sumber daya laut. Sebagai penggerak utama perekonomian, nelayan menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat di pulau ini. Dengan laut sebagai sumber utama penghidupan, nelayan di Pulau Pongok menghabiskan hari-hari mereka menangkap ikan dan hasil laut lainnya yang kemudian dijual di pasar lokal atau diangkut ke wilayah lain. Hasil laut ini juga menjadikan daerah Pongok terkenal akan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pengolahan ikan.
Sebagai masyarakat nelayan, keberadaan stasiun pengisian bahan bakar minyak khusus nelayan (SPBN) yang telah dibangun di tempat itu sebagai langkah pemerataan pembangunan, menjadi sangat vital, untuk mendukung kegiatan mereka.
Sebelumnya mereka sering kali harus melakukan perjalanan jauh ke pulau lain untuk mengisi bahan bakar, yang tidak hanya memakan waktu tetapi juga menambah biaya operasional. Dengan adanya SPBN di Pulau Pongok, diharapkan akan ada penghematan waktu dan biaya yang signifikan, sehingga nelayan dapat lebih fokus pada aktivitas penangkapan ikan dan meningkatkan hasil tangkapan mereka.
"Sekarang sudah ada SPBN di sini, jadi kami mengisi BBM untuk kapal kami di sana" ungkap Suyoto, salahsatu nelayan Desa Pongok.
Menurut Sutoyo, selain keterjangkauan tempat pengisian, harga dan ketersediaan BBM serta kestabilan harga jual hasil tangkapan, juga menjadi harapan bersama masyarakat nelayan yang ada di Kepulauan Pongok.
Indonesia Sentris di Kepulauan Berjalan : Perlahan Tapi Pasti

Dalam wawancara dengan Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan (Karo Ekbang) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Prov. Kep. Babel) Ahmad Yani, SE., M.Si., Ph.D disebutkan bahwa saat ini Indonesia Sentris telah berjalan di Kepulauan Pongok, secara perlahan.
Konsep Pembangunan Indonesia Sentris yang saat ini juga masih berproses itu dikatakan Karo Ekbang Ahmad Yani akan membuat daerah ini akan dapat berkembang lebih pesat, dan setara dengan daerah maju lainnya di Indonesia. Terlebih ciri Bangka Belitung sebagai Provinsi Kepulauan menjadikannya sebuah keuntungan sekaligus tantangan.
"Kita memiliki keuntungan sekaligus tantangan. Saat ini Pemerintah Pusat sedang menggodok formula khusus untuk daerah-daerah kepulauan melalui undang-undang. Diharapkan formula itu bisa mengakomodir masyarakat kepulauan yang sebagian besar daerahnya berupa perairan" sebutnya.
Untuk bidang Pendidikan, menurut Karo Ekbang Setda Babel, Ahmad Yani, peningkatan pendidikan suatu daerah ditentukan oleh anggaran dan tenaga pendidik, serta harus didukung sektor lain.
"Untuk pendidikan itu, mau tidak mau adalah ketersediaan anggaran dan tenaga pendidik. Pemerintah harus membuat perencanaan yang melingkupi dan mewadahi dunia pendidikan terutama pendidikan dasar SD SMP SMA, terutama SDM seperti gurunya. Nah, Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tetapi berdampingan dengan sektor lain terutama teknologi dan sebagainya" jelasnya.
Keseriusan Pemerintah dalam melaksanakan Perencanaan di Bidang Pendidikan tersebut harus memuat 20 persen anggaran. Jika tidak, negara yang memiliki pulau terpencil, terkecil, terjauh, dengan resiko tinggi tersebut tidak akan memiliki efek.
Berkenaan infrastruktur jaringan internet yang ada di Kepulauan Pongok, Ahmad Yani menilai, bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri menjadi kebutuhan yang penting. Teknologi digital akan mempercepat ekselerasi pendidikan ke tingkat lebih tinggi suatu daerah.
"Suatu negara apabila tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, maka negara itu akan gagal" ungkapnya.
Namun demikian, dirinya mengingatkan, penggunaan teknologi digital suatu daerah harus diiringi dengan sumber daya manusia yang juga semakin cakap digital. Jangan sampai kemajuan ini justru digunakan untuk hal hal negatif seperti fenomena yang terjadi akhir-akhir ini yaitu judi online.
Mengenai permasalahan ketidakstabilan akses internet karena kurangnya pasokan BBM untuk pembangkit BTS, pemerintah terus mengupayakan koordinasi dengan pihak terkait untuk pemenuhan BBM tersebut.
"Kita terus berupaya berkoordinasi dengan PT. Pertamina, agar pemenuhan BBM khusus di Kepulauan Pongok dapat dilayani," ungkapnya.
Lebih lanjut Ahmad Yani mengungkapkan harapan pembangunan Indonesia Sentris.
"Konsep Indonesia Sentris yang diusung pemerintah merupakan ide yang luar biasa. Membangun dari pinggir menuju tengah adalah upaya besar yang tidak mudah. Dengan pembangunan di setiap daerah, jalan-jalan, pusat bisnis, dan UMKM semakin berkembang, diharapkan tidak ada lagi perpindahan masyarakat dari desa ke kota karena fasilitas dan kesempatan di daerah sudah mencukupi" ungkapnya.
Pembangunan memang by proses, melalui pemikiran pemimpin yang tentu mengharapkan Indonesia lebih maju lagi. Pada akhirnya setiap pihak berharap semoga roda-roda Indonesia Sentris ini terus bergulir mewujudkan pembangunan Indonesia yang adil, makmur, dan merata.
Pesan Indonesia Sentris Harus Tersampaikan

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Diskominfo Babel) memiliki peran vital dalam penyebarluasan informasi masyarakat. Diskominfo Babel memegang peran krusial dalam mengelola arus tsunami informasi yang melanda masyarakat saat ini. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, Diskominfo Babel bertanggung jawab untuk memastikan informasi yang disebarluaskan tidak hanya akurat dan relevan, tetapi juga bermanfaat bagi publik.
Melalui strategi komunikasi yang efektif, pengawasan terhadap konten yang beredar, serta edukasi digital kepada masyarakat, Diskominfo Babel berupaya mengatasi tantangan informasi yang berlebihan dan sering kali tidak terverifikasi. Peran ini sangat penting untuk menjaga kualitas informasi dan mengurangi dampak negatif dari penyebaran berita palsu atau hoaks.
Sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat, Diskominfo juga bertugas mengumpulkan, mengelola, dan menyebarluaskan informasi yang akurat dan terpercaya. Ini termasuk mengelola situs web pemerintah, media sosial, serta publikasi resmi untuk memastikan informasi kebijakan, program, dan layanan pemerintah tersampaikan dengan baik.
Dalam kerangka Indonesia Sentris yang merupakan mandat pemerintah pusat, Diskominfo juga memegang tanggung jawab penting. Penyebaran informasi Penyebaran informasi implementasi Indonesia Sentris di Kepulauan Pongok ini diharapkan dapat mendorong pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pembangunan yang merata di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di pulau-pulau seperti Kepulauan Pongok. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam program-program pembangunan, sehingga tercipta kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan warga setempat dalam mewujudkan visi Indonesia Sentris.
Nomor dan Kontak Person
Nomor : 555/212/PR/VIII/2024
Dinas Komunikasi Dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Pulau Lepar, Komplek Perkantoran dan Permukiman Terpadu Pemerintah Prov. Kep.Bangka Belitung Kelurahan Air Itam Pangkalpinang Telp. (0717) 4262141; (0717) 4262141 Fax : (0717) 4262143
Website :
http//kominfo.babelprov.go.id
http//bacayuk.id
Email : kominfo@babelprov.go.id
Facebook : Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Siaran pers ini diterbitkan dan dipublikasikan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kepulauan Bangka Belitung.
"Tebarkan Kebaikan Dengan Menyebarkan Informasi Secara Bijak. Pastikan Cakap, Aman, sesuai dengan Budaya dan Etika Digital"
Syarat dan ketentuan/ term of use
1. Seluruh tulisan, rancangan desain, gambar, artwork, audio, video, yang selanjutnya disebut konten dalam Siaran Pers ini adalah hak cipta milik Diskominfo Babel.
2. Konten dapat diunduh melalui tautan yang tersedia di platform Diskominfo Babel.
3. Diperkenankan untuk mencetak, menyalin, menyimpan, mempublikasikan, menayangkan, menyebarkan, memodifikasi, menerjemahkan, menerbitkan, atau mendistribusikan kembali konten dengan tujuan publikasi yang sesuai dengan isi Siaran Pers.
3. Diskominfo Babel tidak bertanggungjawab atas penyalahgunaan konten.
4. Dengan melanjutkan proses pengunduhan, Anda menyetujui seluruh syarat dan ketentuan yang berlaku.
ID
EN